Text
Ajaran dan Dzikir Sunan Kalijaga
Lir-llir, lir-llir, tandure wis sumilir
Tak jo royo-royo, dak sengguh penganten anyar.
Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna kanggo masuk dodotiro.
Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir
Domono jumatono kanggo seba mengko sore
Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane
Ya surak-a surak horeeee!
Siapa yang tak mengenal tembang di atas? Selain Lir-llir, ada lagi tembang Gendul Pacu dan lain sebagainya. Tembang itu adalah ciptaan Kanjeng Sunan Kalijaga, alias Raden Said yang sering disebut sebagai wali orisinil. Namanya akrab di telinga Islam Jawa. Dan, nyatanya dialah satu-satunya Wali yang bisa diterima oleh berbagai pihak, baik oleh mutihan atau abangan, santri atau awam.
Sunan Kalijaga, seperti halnya Syekh Siti Jenar, memang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa melalui sisi budaya. Islam menemui banyak halangan untuk berkembang di tanah Jawa karena bertemu dengan kultur yang sudah sangat kuat, yaitu kultur Hindu/Buddha di bawah pengaruh kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, Sunan Kalijaga melakukan transmogrifikasi dengan memasukkan unsur-unsur Islam dalam budaya Jawa seperti memasukkannya ke dalam syair-syair macapat, memodifikasi wayang kulit, menciptakan lagu yang sangat terkenal, Lir-llir, dan sebagainya.
Buku ini tidak sekadar bertutur kata tentang kisah Sunan Kalijaga, tetapi mengungkap ajaran serta amalan yang diwariskannya, seperti doa-doa (kidung) baik yang berbahasa Jawa maupun yang diambil dari ma'surat. Dengan demikian kita bisa lebih pahami ajaran (pesan) kearifan Sunan Kalijaga serta bisa mendapatkan khazanah lama yang berharga.
Tidak tersedia versi lain